Showing posts with label Kisah Abu Bakar Ash shiddiq. Show all posts
Showing posts with label Kisah Abu Bakar Ash shiddiq. Show all posts

Friday, 13 November 2015

Kisah Kepemimpinan Abu Bakar Ash Shiddiq

Sepeninggal Rasulullah Saw, ada yang menjadi khalifah, pengganti Rasulullah Saw dalam kepemimpinan umat, dalam rangka menjalankan pemerintahan dengan al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. Dari merekalah kita bisa memperoleh banyak pelajaran bagaimana meneladani Rasululah Saw dalam masalah kepemimpinan dan pemerintahan. Tulisan ini menguraikan sosok kepemimpinan salah seorang sahabat Rasulullah Saw yang paling utama, pengganti beliau Saw mengimami sholat, dan pengganti beliau Saw dalam kepemimpinan negara dan umat Islam sepeninggal beliau Saw, yakni Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq . Cerdas, Supel, Jujur Dan Berani Menurut Ibnu Hisyam dalam kitabnya Sirah Nabawiyah, Juz I/249-250, Abu Bakar Ash Shiddiq  dalah putra Abu Quhafah. Nama aslinya Abdullah, panggilannya Atiq (sang Tampan) lantaran wajahnya yang tampan dan cakap orangnya. Tatkala masuk Islam, Abu Bakar Ash Shiddiq. menampilkan keislamannya, dan mengajak orang kepada Allah dan Rasul-Nya. Dakwah Abu Bakar ini cukup efektif mengingat ia adalah seorang Quraisy yang yang supel dalam pergaulan, disukai dan diterima, seorang pebisnis, berbudi pekerti baik. Orang-orang biasa datang padanya dan bergaul dengannya untuk banyak urusan lantaran ilmu yang dimilikinya, bisnisnya, dan baik pergaulannya. Sejumlah sahabat yang masuk Islam di tangan Abu Bakar antara lain adalah Utsman bin Affan r.a., Zubair bin Awwam r.a., Abdurrahman bin Auf r.a., Saad bin Abi Waqash r.a., dan Thalhah bin Ubaidillah r.a. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang cerdas, mudah mengerti dakwah yang disampaikan Rasulullah Saw sehingga ia pun cepat membenarkan dan meyakini apa yang dikatakan beliau Saw dan masuk Islam. Ibnu Hisyam (idem, hal 252) mengatakan bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “Tidaklah aku mengajak seseorang kepada Islam melainkan ia tidak langsung menjawab, masih pikir-pikir, dan masih ragu-ragu, kecuali Abu Bakar bin Abi Quhafah. 
Tatkala aku berbicara dengannya, ia tidak menunda-nunda (pembenarannya) dan ia tidak ragu-ragu.”. Tatkala Nabi Saw diperjalankan oleh Allah SWT dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, tidak sedikit orang yang langsung menolak kabar dari beliau mentah-mentah, bahkan ada sebagian kaum muslimin yang murtad, atau masih ragu-ragu, Abu Bakar secara cerdas membenarkannya dan mengatakan: “Jangankan kabar dari Muhammad Saw bahwa di berjalan di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqshaa, sedangkan kabar yang diperolehnya dari langit dalam sekejap saja saya terima.” Dengan keyakinan itu pula Abu Bakar Ash Shiddiq siap dibina dengan Islam dan siap berjuang untuk Islam. Abu Bakar berani dan siap mengambil resiko berhadapan dengan Quraisy dalam mendakwahkan Islam. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wan Nihayah menuturkan: Tatkala Rasulullah Saw melaksanakan perintah Allah SWT untuk memperkenalkan kelompok dakwahnya secara terang-terangan (lihat QS. Al Hijr … ), dengan cara membentuk dua barisan yang dikepalai Hamzah r.a. dan Umar r.a. menuju Ka’bah, maka di situlah, di depan perwakilan para kabilah di Makkah, Abu Bakar Ash Shiddiq. berpidato. Dan orang-orang Quraisy pun memukulinya sampai mukanya babak belur dan pingsan. Namun setelah siuman, yang ditanyakan pertama kali adalah: Bagaimana keadaan Rasulullah? Pantaslah ia mendapatkan gelar As Shiddiiq, artinya yang lurus, yang benar, yang membuktikan kebenaran ucapannya dengan perbuatan. Pidato Pertama Sebagai Khalifah Pertama Setelah pembaiatan Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai Khalifah, beliau r.a. berpidato: “Hai saudara-saudara! Kalian telah membaiat saya sebagai khalifah (kepala negara). Sesungguhnya saya tidaklah lebih baik dari kalian. Oleh karenanya, apabila saya berbuat baik, maka tolonglah dan bantulah saya dalam kebaikan itu; tetapi apabila saya berbuat kesalahan, maka tegurlah saya. Taatlah kalian kepada saya selama saya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mentaati saya, apabila saya berbuat maksiat pada Allah dan Rasul-Nya.” (lihat Abdul Aziz Al Badri, Al Islam bainal Ulama wal Hukkam). Pidato khalifah Abu Bakar r.a. di atas menunjukkan bahwa beliau sebagai khalifah tidak pernah menganggap dirinya sebagai orang yang suci yang harus diagung-agungkan. Tak ada dalam kamus beliau: The chaliphate can do no wrong! Beliau justru mengedepankan supremasi hukum syariah, dan menjadikan loyalitas dan ketaatan warga negara padanya adalah satu paket dalam ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Beliau menjadikan syariah Allah sebagai standar untuk menentukan benar dan salah yang harus diikuti tidak hanya oleh rakyat, tapi juga oleh penguasa. Apa yang beliau nyatakan di atas jelas adalah pengejawantahan dari pemahaman beliau pada firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kalian berlainan pendapat mengenai sesuatu, maka kembalikanlah dia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisaa' : 59). Juga adalah refleksi dari pemahaman beliau kepada hadits Rasulullah Saw: “Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada Allah, dan tidak ada ketaatan kepada orang yang maksiat kepada siapa saja yang berbuat maksiat.” [HR. Ahmad, Hakiem, dan Abu Dawud]. Lembut Tapi Tegas Sejak sebelum Islam Abu Bakar r.a. terkenal sebagai orang baik, lembut hatinya, gemar menolong dan suka memberi maaf. Dan setelah Islam dan berkuasa sebagai khalifah pengganti Rasul dalam kepemimpinan negara dan umat, tentunya tidak diragukan lagi bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq. adalah orang yang betul-betul memahami sabda Rasulullah Saw: “Ya Allah, siapa saja yang diberi tanggung jawab memimpin urusan pemerintahan umatku dan menimbulkan kesulitan bagi mereka, maka persulitlah dia. Dan siapa saja yang memerintah umatku dengan sikap lembut (bersahabat) kepada mereka, maka lembutlah kepadanya.” [HR. Muslim]. Namun sebagai Khalifah, beliau wajib memerintah dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul, dan wajib menjaga agar supremasi hukum syariah tetap terjaga. Oleh sebab itu, dalam rangka mempertahankan kedaulatan hukum syariah, tidak segan-segan beliau mengambil tindakan tegas bagi siapa saja yang hendak merobohkannya. Ini seperti yang beliau lakukan kepada sebagian kaum muslimin yang murtad dan tidak mau membayar zakat begitu mendengar berita wafatnya Rasulullah Saw. Sekalipun para sahabat yang diminta pendapatnya masih mentolerir tindakan orang-orang yang tidak mau membayar zakat itu selama mereka masih sholat, namun Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq tetap dalam pendiriannya. Di hadapan kaum muslimin beliau berpidato: “Wahai kaum muslimin, ketahuilah saat Allah mengutus Muhammad, kebenaran itu (Al Islam) selalu diremehkan orang dan Islam dimusuhi sehingga banyak orang yang enggan masuk Islam sebab takut disiksa. Namun Allah lalu menolongnya sehingga seluruh bangsa Arab dapat disatukan di bawah naungannya. Demi Allah, aku akan tegakkan agama ini dan aku akan berjuang fi sabilillah sampai Allah memberikan kemenangan atau Allah akan memberikan surga bagi orang yang terbunuh di jalan Allah dan akan memberi kejayaan bagi orang yang mendapatkan kemenangan sehingga ia akan dapat menjadi hamba yang berbakti dengan aman sentausa. Demi Allah, jika mereka tidak mau membayar zakat, meskipun hanya seutas tali, pasti akan aku perangi meskipun jumlah mereka banyak sampai aku terbunuh, sebab Allah tidak memisahkan kewajiban zakat dari kewajiban sholat.” (lihat Al Kandahlawy, Hayatus Shahabat, juga Kanzul Ummal). Metode Kepemimpinan Abu Bakar ash Sidiq Khulafaur Rasyidin adalah pemimpin umat Islam setelah Nabi Muhammad saw wafat, yaitu pada masa pemerintahan Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, dimana sistem pemerintahan yang diterapkan adalah pemerintahan yang demokratis. Nabi Muhammad saw tidak meninggalkan wasiat mengenai siapa yang akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau wafat. Beliau nampaknya menyerahkan persoalan itu kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah tidak lama setelah beliau wafat, belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balaikota  Bani Sa’idah tepatnya di Madinah, mereka bermusyawarah menentukan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot sebab masing-masing pihak baik Muhajirin atau Anshar sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Namun dengan semangat ukhuwah Islamiyah tinggi, akhirnya Abu Bakar yang terpilih. 

Semangat keagamaan Abu Bakar Ash Shiddiq memperoleh penghargaan tinggi dari umat Islam, sehingga masing-masing pihak menerima dan membaiatnya. Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasul, maka Abu Bakar disebut Khalifah Rasulullah (Pengganti Rasul). Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan. Setelah selesai orang membaiat, Abu Bakar Ash Shiddiq pun berpidato sebagai sambutan atas kepercayaan orang banyak kepada dirinya, penting dan ringkas : “Wahai manusia, sekarang aku telah menjabat pekerjaan kami ini, tetapi bukanlah aku orang yang lebih baik dari pada kamu. Jika aku lelah berlaku baik dalam jabatanku, sokonglah aku, tetapi kalau aku berlaku salah, tegakkanlah aku kembali, kejujuran adalah suatu amanat, kedustaan adalah suatu khianat. Orang yang kuat di antara kamu, pada sisiku hanyalah lemah, sehingga hak si lemah aku tarik dari padanya. Orang yang lemah di sisimu, pada sisiku kuat, sebab akan ku ambilkan dari pada si kuat akan haknya, Insyaallah. Janganlah kalian suka menghentikan jihad itu, yang tak akan ditimpa kehinaan. Taatlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi kalau aku melanggar perintah-Nya, tidak usahlah kalian taat dan ikut aku lagi. Berdirilah sembahyang, semoga rahmat Allah meliputi kamu.” Pemerintahan Abu Bakar adalah pemerintahan pertama yang mengobarkan peperangan dan memepersenjatai bala tentara untuk membela hak-hak kaum kafir yang lemah. Dalam hal ini Abu Bakar sangat di kenal dengan sebuah ungkapannya sekaligus yang menjadi komitmennya : “Demi Allah jika mereka tidak mau membayar zakat dari harta yang mampu mereka bayar , padahal (dahulu) mereka membayarkannya kepada Rasulullah SAW. Maka niscaya aku akan memerangi mereka.” Abu Bakar Ash Shiddiq yang memulai penakhlukan dan perluasan Islam pada masanya, Islam mampu menakhlukan Persia dan Romawi, bahkan beliau meninggal pada saat perang yarmuk melawan imperium Romawi. Dalam setiap peperangan yang diperintahkan beliau adalah selalu menanamkan nilai-nilai etika yang berdasar al Qur’an dan as sunnah. Beliau mewasiatkan pada kaum Muslimin : “Janganlah sekali-kali membunuh pendeta biarlah mereka melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan mereka. Abu Bakar Ash Shiddiq menjadi khalifah hanya selama dua tahun, pada tahun 634 M beliau meninggal dunia. Masa sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah Madinah, mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat dengan Nabi Muhammad saw dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat. Karena itu mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, maka Abu Bakar menyelesaikan persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan kemurtadan). Khalid bin Walid adalah jenderal yang banyak berjasa dalam Perang Riddah ini. Kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq, sebagaimana pada masa Rasulullah saw, bersifat sentral : kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga melaksanakan hukum. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad saw, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah. Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan ke luar Arabia. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai al Hirah pada tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat jenderal yaitu Abu Ubaidah, Amr ibnu ‘Ash, Yazid ibnu Abi Sufyan dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat tentara ini, Khalid ibnu Walid diperintahkan meninggalkan Irak, dan melalui gurun pasir yang jarang dijalani, dia sampai ke Syria. Abu Bakar meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam sedang mengancam Palestina, Irak, dan kerajaan Hirah. beliau diganti oleh “tangan kanan”nya, Umar bin Khattab. 

Ketika Abu Bakar Ash Shiddiq sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, dia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, lalu mengangkat Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar itu ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Dia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu’minin (Komandan orang-orang yang beriman). Abu Bakar Ash Shiddiq juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis al Quran. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah dalam perang Ridda, banyak penghafal al Qur’an yang ikut tewas dalam pertempuran. Abu Bakar Ash Shiddiq lantas meminta Umar bin Khattab untuk mengumpulkan koleksi dari al Qur’an. Setelah lengkap koleksi ini, yang dikumpulkan dari para penghafal al Quran dan tulisan-tulisan yang terdapat pada media tulis seperti tulang, kulit dan lain sebagainya, oleh sebuah tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit, lalu disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar bin Khattab dan juga istri dari Nabi Muhammad saw. Kemudian pada masa pemerintahan Ustman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al Qur’an hingga yang dikenal hingga saat ini.

Kisah Abu Bakar Ash Shiddiq Dalam Fastabiqul Khoirot

Pernah dengar istilah ‘fastabiqul khoirot’, kan? fastabiqul khoirot merupakan  perintah berlomba-lomba dalam kebaikan untuk kita para muslim. Kalau kita melihat sejarah Islam, banyak tokoh yang mencontohkan semangat berlomba soal ibadah dalam keseharian mereka. Semangat beribadah tinggi dalam perintah ‘berlomba-lomba dalam kebaikan’ nyata salah satunya ditunjukkan sahabat sekaligus Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq dalam kesehariannya.
Selain terkenal sebagai sahabat yang pertama kali mempercayai kerasulan Rasulullah Muhammad SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq adalah sahabat yang memiliki kualitas ibadah dengan semangat tingkat tinggi. Salah satunya dengan nominal harta yang diinfakkan ke Baitul Mal. Dalam keadaan perekonomian Islam yang saat itu belum ‘makmur’, Abu Bakar Ash Shiddiq rela menginfakkan seluruh hartanya untuk agama. Saat ditanya harta apa yang ia miliki dan ia tinggalkan untuk keluarganya, jawabnya, “Aku meninggalkan Allah SWT bersama keluargaku.”
Menganai semangat berlomba dalam kebaikan ini, Abdurrahman, salah satu putra Abu Bakar Ash Shiddiq, pernah bercerita tentang semangat ibadah ayahnya dalam suatu riwayat. Saat itu para sahabat baru saja usai melaksanakan ibadah sholat subuh berjamaah ketika Rasulullah Muhammad SAW memulai ‘sidak’ (inspeksi mendadak) tentang ibadah para sahabat.
Abdurrahman bercerita, “Pada suatu ketika usai melaksanakan shalat subuh, Rasulullah SAW tiba-tiba mengarahkan pandangannya ke arah para sahabatnya seraya mengatakan, “Adakah di antara kalian yang hari ini berpuasa?”
Umar bin Khathab ra menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak berniat untuk puasa pada hari ini, sehingga di pagi ini aku tidak berpuasa.”
Lalu Abu Bakar Ash Shiddiq berkata, “Aku berpuasa wahai Rasulullah, sebab sejak semalam aku telah berniat puasa, sehingga di pagi ini aku pun berpuasa.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam kemudian bertanya kembali, “Adakah salah satu dari kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?”
Para sahabat berpikir sejenak sebab saat itu masih dini hari dan sebagian besar dari mereka baru melakukan ibadah sholat subuh bersama di masjid itu. Salah seorang di antara mereka pun berkata, “Wahai Rasulullah, usai menjalankan shalat tentunya kami masih berada di sini. Lantas bagaimana kami bisa menjenguk orang sakit?”
Tetapi Abu Bakar Ash Shiddiq menjawab berlainan, “Telah sampai kabar padaku bahwa saudaraku Abdurrahman bin Auf sedang mengeluhkan sakit yang dialaminya, sehingga dalam perjalananku ke arah masjid ini aku telah menyempatkan diri menjenguknya.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam melanjutkan ‘survei ibadah’-nya pagi itu, “Adakah salah satu dari kalian yang hari ini ia bershadaqah?”
Sahabat Umar  ra menjawab, “Wahai Rasulullah, usai menjalankan shalat tentunya kami masih berada di sini.” Panjangnya hari yang dimulai dari sholat malam hingga sholat subuh saat itu tentu belum memungkinkan banyak sahabat untuk melakukan cukup banyak ibadah.
Tetapi sekali lagi Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki jawaban berbeda. Ia berkata, “Saat aku memasuki masjid, aku melihat seorang pengemis sedang meminta-minta. Ketika itu aku mendapati sepotong roti gandum tengah berada di genggaman tangan Abdurrahman (salah seorang putranya), lalu aku pun memintanya untuk aku berikan kepada pengemis itu.”
Dengan semua ‘survei ibadah’-nya, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda, “Bergembiralah engkau (wahai Abu Bakar Ash Shiddiq) dengan surga.”
Mendengar sabda Rasulullah SAW, Umar ra menghela nafas seraya berkata, “Oh.. betapa indahnya surga.”
Namun selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam mengucapkan perkataan yang membuat Umar merasa lega. Melalui sabda tersebut Umar pun menyadari bahwa segala kebaikan seolah memang telah tertulis untuk didahului oleh Abu Bakar Ash Shiddiq.
Dalam sebuah riwayat, dijelaskan sabda Rasulullah saw yang melegakan Umar ra sebagai berikut: “Semoga Allah menyayangi Umar, semoga Allah menyayangi Umar, sebab segala kebaikan yang diinginkannya telah didahului seluruhnya oleh Abu Bakar.”
Embun Kids lihat sediri kan, betapa besar semangat ibadah yang ditunjukkan sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq? Saat hampir semua sahabat baru memaksimalkan pagi hari (subuh) mereka dengan sholat malam dan sholat subuh berjamaah, Abu Bakar Ash Shiddiq telah ‘melengkapi’ semangat ibadahnya dengan berpuasa, menjenguk orang sakit, dan bersedekah.
Nah, kalau setiap subuh ada malaikat yang menilai ‘perlombaan kebaikan’ para manusia seperti apa yang dilakukan Rasulullah subuh itu, kalian tentu ingin menjadi pemenang, kan? Maka, mari berkompetisi, mari berprestasi!

Kisah Kewalian Abu Bakar Ash Shiddiq

Ini merupakan salah satu kisah dari khalifah  Abu Bakar Ash Shiddiq yang di ceritakan oleh Bukhari dan Muslim yang meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abu Bakar. Suatu hari rumah Abu Bakar Ash Shiddiq didatangi oleh tiga orang tamu, sedangkan beliau sendiri saat itu tengah diundang makan malam di rumah Baginda. Setelah jauh malam, beliau pun pulang.

Istrinya bertanya, “Apakah engkau menghindari diri dari para tamu itu?”

“Apakah engkau telah suguhi mereka makan?”  Abu Bakar Ash Shiddiq balik bertanya.

“Mereka enggan disuguhi makan sebelum engkau pulang” sambung istrinya lagi

“Demi Allah, makanan tidak cukup,” ujar  Abu Bakar Ash Shiddiq. Meski begitu  Abu Bakar Ash Shiddiq tetap menyuguhi tamunya makanan.

Salah satu tamunya berkata, “Demi Allah, makanan ini bertambah banyak setiap kami ambil. Kami semua sudah kenyang, tapi makanan ini malah bertambah banyak dari sebelumnya”

 Abu Bakar Ash Shiddiq kemudian memeriksa dan mendapati makanan tersebut memang tidak habis, tetapi malah bertambah banyak. Lalu, Abu Bakar Ash Shiddiq berkata kepada istrinya, “Wahai saudara bani Farras, apakah ini
semua?”

Istrinya menjawab, “Tidak salah, makanan ini bertambah banyak tiga kali lipat daripada sebelumnya”

 Abu Bakar Ash Shiddiq adalah sahabat Nabi yang terkenal akan kehati-hatiannya dalam hal makanan. Suatu hari Abu Bakar disuguhi makanan oleh hamba sahaya. Orang itu berkata, “Engkau selalu bertanya akan sumber makanan yang aku bawa, tetapi hari ini engkau tidak berbuat demikian”

“Aku terlalu lapar sehingga aku lupa bertanya. Terangkanlah padaku darimana engkau mendapatkan makanan ini!”

“Sebelum aku memeluk islam, aku menjadi dukun teduh. Orang-orang yang aku bantu nasibnya, kadang-kadang tidak mampu membayar utang kepadaku. Mereka berjanji membayarnya jika mereka memiliki uang. Aku berjumpa mereka hari ini. Merekalah yang memberiku makanan yang engkau makan itu”

Tiba-tiba saja  Abu Bakar Ash Shiddiq memekik, “Ah! Nyaris kau bunuh aku” Abu Bakar terlihat pucat ketakutan. Kemudia Abu Bakar berusaha mengeluarkan makanan yang telah ditelannya dengan paksa. Ada sahabat yang menyarankannya supaya beliau minum air sebanyak-banyaknya dan kemudian memuntahkan makanan yang ditelan tadi. Beliau menurutinya sehingga makanan tadi berhasil dimuntahkan.

“Semoga Allah mencuci rahmat atasmu. Engkau telah berusaha menjaga perutmu dari makanan yang tidak baik” kata sahabat itu

“Aku pasti akan memaksanya keluar walaupun aku mungkin akan kehilangan nyawaku. Aku mendengar Nabi berkata ‘Tubuh yang tumbuh subur dengan makanan haram akan merasakan api neraka.’ Oleh karena itu, aku memaksa makanan itu keluar takut kalau ia mengantarku kepada api neraka,” tutur  Abu Bakar Ash Shiddiq.

Begitulah sosok  Abu Bakar Ash Shiddiq. Kesungguhannya menaati perintah Allah dan Rasulllah membuatnya istemewa di mata Allah, Rasul, dan umat manusia.

Kewalian Abu Bkar tidak hanya terjadi semasa hidupnya, tatapi juga setelah beliau wafat. Rasullullah saw memersilahkan kedatangannya di sisi Baginda, sedangkan pada waktu itu Rasulullah saw sendiri telah wafat.

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Fakhrurazi dalam menafsirkan surah al-Kahfi yang menyebut juga tentang  Abu Bakar Ash Shiddiq.

Tatkala jenazah beliau diusung melewati pintu yang dekat dengan makam Rasullullah saw, orang-orang yang mengirinya memberi salam, “Sejahtera atas engkau, wahai Rasulullah! Ini dia  Abu Bakar Ash Shiddiq di muka pintu”

Tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya, kemudian keluar suara dari dalam makam, “Masuklah kekasih kepada kekasih”

Demikianlah sekilas kisah kewalian Abu Bakar Ash Shiddiq. Tidaklah segalanya itu terjadi tanpa adanya keimanan beliau terhadap keesaan-Nya secara total.

Saturday, 7 November 2015

Kisah Keberanian Abu Bakar Ash Shiddiq

Ketika Rasulullah S.A.W. sedang shalat, Uqba bin Muayt datang menghampiri Rasulullah S.A.W. dengan sebuah tali. Pada saat itu Rasulullah S.A.W. sedang bersujud. Dengan sigap Uqba melempar talinya melingkari leher Rasulullah S.A.W. dan mencekiknya hingga Rasulullah S.A.W. merintih “aaaakkkhhhh” karena kesakitan.
Kejadian ini disaksikan para sahabat dan orang-orang Quraisy yang ada disana. Beruntunglah Abu Bakar As Shiddiq lewat. Ketika dia melihat Uqba bin Abi Muayt mencekik Rasulullah S.A.W., dia berlari dan mendorong Uqba bin Abi Muayt untuk menyelamatkan Rasulullah S.A.W. Kemudian Abu Bakar membacakan ayat: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah” (Q.S. Al-Mu’min:40)
Abu Bakar As Shiddiq berkata "Apakah alasan kau membunuhnya hanya karena dia berkata Aku beriman pada Allah yang satu? Dan dia tidak hanya mengaku-ngaku, tapi dia juga punya banyak buktinya. Jika dia berbohong, maka hidupnya akan runtuh. Kau tidak perlu mengurusnya. Tapi jika dia bicara jujur dan dia benar-benar Rasul Allah, apapun yang dijanjikan kepadamu, akan datang padamu."
Pernyataan ini telah diucapkan seseorang yang hidup di zaman Musa A.S. Ketika Fir’aun menyuruh tentara-tentaranya untuk membunuh Musa A.S., ada seseorang dari keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya. Dia mengucapkan pernyataan ini untuk melawan Fir’aun. Dia berkata “Apakah kau akan membunuh Musa A.S. hanya karena dia berkata “Aku beriman pada Allah yang satu?” Jadi Abu Bakar As Shiddiq mengucapkan hal yang sama kepada Uqbah. Apakah kau akan membunuh Rasulullah S.A.W.. hanya karena dia berkata “Aku beriman pada Allah yang satu?”

Pada suatu hari, Ali R.A. sedang memberikan ceramah, dan dia berkata kepada para hadirin “Siapa orang yang paling kuat?” Orang-orang berkata “Engkau adalah yang paling kuat.” Mereka berpikir begitu karena Ali R.A. selalu siap untuk bertarung melawan umat Muslim. Dia-lah pahlawan pada perang Khaybar. Bayangkanlah, Ali pernah menggunakan pintu kastil sebagai tameng pada perang Khaybar! Bayangkan betapa kuatnya dia. Jadi orang-orang mengatakan bahwa Ali R.A. adalah orang yang paling kuat. Ali R.A. berkata “Aku siap bertarung dengan orang-orang yang menantangku, Meskipun begitu, Abu Bakar As Shiddiq akan melawan siapapun yang menantang Rasulullah S.A.W. Dia lebih kuat daripada aku.”

Abu Bakar As Shiddiq adalah orang yang paling berani dalam umat ini setelah Rasulullah S.A.W. Seseorang dapat melihat kekuatan hatinya pada perang Badar, Uhud, Parit, Hudaibiyah, dan Hunain. Semua ini cukup untuk membuktikan ketabahan, keteguhannya, dan menguatkan seluruh umat Islam ketika tragedi terbesar menimpa umat Islam, yaitu wafatnya Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam.

Popular Posts

Blogger templates

Categories

Powered by Blogger.